May 15 2009

Menangis

Published by mierz at 8:58 am under Curhat

Lebih berbahaya mencucurkan air mata dalam hati
dibandingkan menangis tersedu-sedu.
Air mata yang keluar dapat dihapus
sementara air mata yang tersembunyi menggoreskan
luka yang tidak akan pernah hilang …

Apakah Anda setuju dengan quote tersebut ?

Itu adalah kata-kata yang ibu berikan kepada saya kemarin ketika dengan sangat menyesal dan rasa bersalah saya tidak bisa menemui Bapak saya untuk terakhir kalinya. Yah, Bapak saya telah di panggil oleh Alloh SWT pada Hari Jum’at tgl 01 Mei  2009 pukul 04.00 WIB.
Mudah-mudahan Bapak diterima di Sisi NYa, amiiin.

Bapak saya yang berumur 65th meninggal dirumah sakit, setelah kondisinya semakin nge drop, pasca operasi Prostat pada awal bulan maret kemarin. Setelah pulang dari RS, ternyata maag nya (penyakit lama) justru kambuh.
Kemudian pada hari kamis tgl 30 April 2009 Bapak di bawa kerumah sakit lagi. Sebetulnya rutin tiap minggu ke RS untuk Chek, tapi yang hari kamis itu, kebetulan langsung Opname.

Menurut cerita dari Ibu (karena memang saya tidak mengetahui langsung), pada hari kamis itu, bapak sudah seperti orang sehat, wajahnya ceria, dan sering ngajak ngobrol ibu. Sampe pada malam hari sekitar pukul 21.00 WIB ibu yang sudah merasa kecapekan minta izin bapak untuk pulang, karena memang kakak saya sudah datang ke RS. Ibu yang meminta izin pulang pun tidak seperti biasanya “langsung di izinkan pulang oleh bapak”, padahal kalau biasanya bapak sangat manja, tidak mau ditinggal ibu. Sekedar menebus obat ke Apotik pun harus anaknya yang berangkat, tapi hari itu tumben  bapak enteng saja memberi izin, sampai akhirnya bapak di panggil oleh Alloh pada pukul 04.00 WIB pun, ibu tidak di sampingnya.

Yah, itulah cerita yang aku dapat dari ibu, ketika saya pulang untuk sekedar ingin mengikuti prosesi pemakaman, dari memandikan, mensholatkan dan menguburkannya. Tetapi karena kita terpisah jarak yang sangat jauh, perjalanan darat 13jam, dengan sangat kecewa, saya tidak bisa mengikuti prosesi tersebut, untuk sekedar melihat wajahnya (yang menurut cerita orang-orang, wajahnya ceria dengan seakan tersenyum) yang terakhirpun aku tidak sempat, hanya gundukan tanah yang masih baru yang kutemui.

Begitulah kenapa kali ini saya menulis dengan judul “menangis”, karena memang setibanya aku di rumah (sekitar pukul 19.00 WIB) aku langsung menangis sejadi² nya, gak peduli orang banyak melihatku,  justru air mata ini semakin deras mengalir. Aku kecewa mengapa aku tidak diberi kesempatan untuk melihat Bapakku untuk yang terakhir kalinya, aku sungguh sangat kecewa..

Sampai banyak orang yang mendekatiku hanya untuk memberi nasehat, ibu memberi nasehat banyak sekali termasuk quote yang saya tulis itu, pada umumnya nasehat hanya agar aku ikhlas, sabar, dan tabah menerima cobaan ini. Yah, aku ikhlas, aku tabah, tapi aku kecewa, kenapa aku tidak mendapat kesempatan untuk melihat jenazah bapak, mensholatkan (biarpun bisa dengan sholat Ghoib) dan juga mengantarkan sampai ke peristirahtan terakhir, aku hanya mendapati gundukan tanah yang masih baru, dengan aroma bunga yang sangat menyengat, kenappppppppppppaaaaaaaa ?????????????
Aku menjadi orang yang paling bersalah saat itu, aku tidak sempat meminta maaf kepada bapak, memberi penghormatan terakhir, arrrrrggggggghhhhhhhhhhhhhh………..

Ya Alloh, ampunilah aku yang penuh dosa ini Ya Alloh, ampuni aku yang tidak berbakti kepada orang tua  Ya Alloh, ampuni hambamu yang tidak bisa berbuat baik kepada bapak di saat terakhirnya ya Alloh, Ya Allah, Ampunilah dia, maafkanlah dia dan tempatkanlah di tempat yang mulia (Surga), luaskan kuburannya, mandikan dia dengan air salju dan air es. Bersihkan dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju yang putih dari kotoran, berilah rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga (atau istri di Surga) yang lebih baik daripada keluarganya (di dunia), istri ( yang lebih baik daripada istrinya , dan masukkan dia ke Surga, jagalah dia dari siksa kubur dan Neraka.

Alloohummaghfir lahu Warhamhu Wa ‘Aafihi Wa’fu ‘ahu, Wa Akrim Nuzulahu, Wa Wassi’ Madkholahu, Waghsilhu Bil Maa’i WatsTsalji Wal Barodi, Wa Naqqihi Minal Khothooyaa Kamaa Naqqaitats Tsaubal Abyadho Minad Danasi, Wa Abdilhu Daaron Khoiron Min Daarihi, Wa Ahlan Khoiron Min Ahlihi, Wa Zaujan Khoiron Min Zaujihi, Wa Adkhilhul Jannata, Wa A’idhu Min ‘Adzaabil Qabri.

Selamat jalan Bapak, semoga engkau bahagia di alam sana…..

  • Share/Bookmark

18 responses so far

18 Responses to “Menangis”

  1. suwungon 15 May 2009 at 9:44 am

    mierszzz
    ya sudah… semua ada hikmahnya
    kita doakan saja bapaknya mas miers bisa tenang di sisi NYA
    tenang mas … bapakku juga dah ngak ada kok
    sapa tau bapak kita bisa berteman di SANA…
    kematian orang lain hanya mengingatkan kita
    bahwa kita juga pasti mati

  2. IHSANon 15 May 2009 at 10:18 am

    turut berduka atas kepergiannya

    kita juga tinggal menuggu antrian kita

    saya sangat setuju denga kutipan di atas

    semoga Anda sekeluarga akan bertemu dan hidup abada di syurga-Nya kelak

    aamiin

  3. Wempion 15 May 2009 at 10:26 am

    Turut berduka cita, semoga mendapat tempat disisi Allah SWT.

  4. mierzon 15 May 2009 at 11:08 am

    @pak dhe woeng: iya pak dhe…
    @ihsan, wempi : iya mas, makasih …

  5. GONDESon 15 May 2009 at 11:15 am

    Turut sedih sobat
    semoga ayahnya ditempatkan yang layak disisi Allah SWT

  6. rannyon 15 May 2009 at 3:16 pm

    uhmm membaca blog mu jujur wat saya ikut menangis..mengapa?karena saya juga kehilangan orang yang sangat saya sayang di dunia ini..iya papahku…16 april papa meninggal…dan meninggal na jam 04.30 setelah adzan subuh…kami seakan dan serasa masih di alam mimpi karena papa ga pernah menunjukkan sakit..
    singkat aja apa yang mas rasakan bisa saya rasakan karena kk co saya juga ga bisa liat saat2 terakhir papa dan ga bisa memandikan papa krn perjalanan darat 8jam untuk sampai dirumah kami..
    tabah yah mas..pasti akan susah tapi pasti bisa….saya kadang (sering tepatnya) nangis sendiri,ga dimanapun,kalo inget papa pasti nangis…
    saya turut berduka cita yah mas…

  7. Antonon 15 May 2009 at 4:25 pm

    Kami sekeluarga ikut berbelasungkawa yang mendalam Mas Mierz … semoga Bapaknya diterima di sisi Allah SWT sesuai amal ibadahnnya dan mendapatkan RahmatNya …. amiiin
    Jangan terlalu menyesal dengan yang sudah telewatkan … sekarang rajin-rajinlah mendoakan bapak agar tenang di alam sana … aamiin

  8. Diahon 16 May 2009 at 12:08 am

    Saya Sekeluarga Turut Berduka Cita Atas meninggalnya Bapak dari mas Mierz
    Semoga segala kebaikan di dunia selama ini di terima di sisi-Nya
    dan keluarga yang di tinggalkan di beri ketabahan

    coz..saya jadi ingat mas bapak saya juga tiada persis hampir sama dg cerita diatas dimana saya tidak bisa melihat lsg bahkan melihat wajahnya sekalipun.

    Ok..mas tetap tabah ya..sekarang rajin2 mendo’akan karena do’a anak yang berbakti kepada kedua orang tua ..akan diterima Allah S.W.T
    Amin 33X

  9. suwungon 16 May 2009 at 7:22 am

    iya mbak ranni juga baru ajah kehilangan… weh sapa tau jodoh miers ama mbak rani

  10. mierzon 17 May 2009 at 8:08 am

    @gondes : iya, aminn..
    @rann : iya mbak maksih, kita sama sekarang, hehehe…
    @anton : makasih mas…
    @pak dhe: weh, opo-opoan kie…
    hihihihi

  11. gajah_pesingon 18 May 2009 at 8:48 am

    turut berduka cita, aku yakin, bapak kamu sudah memaafkan semua kesalahanmu… biarlah beliau beristirahat dengan tenag disana…

  12. Aeroboyson 18 May 2009 at 7:03 pm

    Turut berduka cita, aku sudah sejak umur 2 tahun gak tau wajah bapak aku… tinggal mama nenek dan kake yang paling aku sayangi, itupun sudah lebih dari 10 tahun terpisah paling 3-4 bulan sekali ketemu… maklum petualang…

  13. tuyion 19 May 2009 at 5:21 am

    Sudahlah Mas jangan menangis lagi, kematian adalah suatu yang pasti, semua nanti dapat giliran tapi entah kapan…?

  14. junjungon 20 May 2009 at 9:02 am

    turut berduka cita…
    semua udah diatur sm yg diatas

  15. ucup markucup dudul mardudulon 20 May 2009 at 2:44 pm

    maaf kang, wingi entuk beritane telat aku.

    ning saiki lak wes ora sedih to?
    wes isa ngikhlaske?

  16. mierzon 21 May 2009 at 5:35 am

    terima kasih temans…

  17. Kecelekaan Pesawat | mierz blogon 28 May 2009 at 8:12 am

    [...] « Menangis Conficker » May 21 2009 [...]

  18. Sebuah Pilihan | mierz blogon 17 Jun 2009 at 4:48 pm

    [...] sedangkan ibu saya ingin saya melanjutkan ke SMU (yang katanya lebih deket dg rumah) sedangkan almarhum bapak, ingin saya melanjutkan sekolah ke SMEA. Aku pun memasukkan formulir pendaftaran ke 3(tiga) sekolah [...]

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply